Pemaksaan dan keterpaksaan

Wednesday, 7 November 2007

Budaya diri itu tidak tercipta seketika. Ada proses panjang yang harus dilalui. Seperti sebuah pahatan yang berkelas, ia adalah paduan antara kreasi, ide, kesabaran, dan semangat kerja yang tak ada habisnya. Begitulah sebuah budaya diri yang baik. Ia mulanya -bahkan kebanyakan- adalah ‘pemaksaan’, lantas berubah menjadi kebiasaan. Lalu sesudah itu orang bisa mengalir dalam jalan kehidupannya yang baik. Dengan sesekali terjadi pasang surut semangat, tetapi ia tidak lupa dengan tujuan akhir hidupnya. Beberapa hal berikut, adalah buah yang sangat berharga dari ‘pemaksaan’ diri untuk menjadi baik.

1. ‘Pemaksaan’ membuat orang tidak terkejut dengan perubahan.

Tidak ada yang stabil dalam hidup ini. Seiring perginya pagi dan datangnya siang, selalu saja ada hal baru yang berubah. Kadang ia mengenakkan. Tak jarang pula ia menyesakkan. Orang-orang yang terbiasa hidup dengan semangat yang kuat, dengan ‘pemaksaan’, tidak akan terkejut dengan apa yang akan terjadi.

Hubungan antara pemaksaan diri dengan keterkejutan sangat dekat. Manusia adalah anak kebiasaannya. Jika ia terbiasa bersusah payah, ia tidak akan terkejut dengan kesusahan. Sebaliknya, mereka yang manja, yang tidak terbiasa dengan kesulitan, dan hanya mengerti hidup yang enak, akan sulit membiasakan diri dengan hal-hal yang sulit.

Selebihnya, sejarah anak manusia banyak membuktikan teori itu. Sungguh banyak cerita keberhasilan seseorang yang diawali oleh situasi sulit tapi ia tabah dan mampu melawan kesulitannya. Sungguh banyak kisah keterpurukan orang yang sulit bangkit karena ia tak mampu melawan dinamika hidup.

Bercermin pada peri hidup Rasulullah SAW saja, kita dapat memahami bagaimana proses penempaan pribadi pemimpin agung itu. Bagaimana ia sejak kecil hidup mandiri dan terlepas dari orang tua yang seharusnya terlibat dalam perjalanan hidupnya ketika itu. Rasul ditinggal oleh ayahnya sejak ia masih dalam kandungan ibunya. Tak berapa lama setelah lahir, giliran sang ibu yang meninggalkannya. Kemudian sang kakek yang mengasihinya. Di sela-sela itu, Rasulullah juga merasakan sulitnya menghidupi diri lewat upayanya sebagai penggembala kambing. Ia juga ikut mendampingi pamannya berdagang ke sejumlah tempat. Begitulah. Proses hidup itu antara lain yang makin menguatkan mental dan kepribadian Rasulullah hingga ia berhasil mengemban amanah Allah SWT untuk memperjuangkan akidah tauhid.

2. Pemaksaan itu kerap disadari manfaatnya di kemudian hari.

Tak terhitung manfaat yang bisa dirasakan dari pemaksaan suatu kebaikan. Seperti juga di akhirat kelak, baru tersadar bahwa manfaat pemaksaan diri begitu besar bagi upaya orang memohon masuk surga. Seringkali pemaksaan diri baru terasa manfaatnya kelak di kemudian hari. Seperti seorang anak kecil, yang selalu dipaksa ibunya menggosok gigi. Kelak, ia akan menyadari, betapa pemaksaan itu begitu memberi arti bagi kesehatan giginya di usia dewasa. Sementara si anak ketika itu, mungkin lebih merasakan kegiatan menggosok gigi itu sebagai beban yang memberatkan. Dalam konteks kehidupan dunia dan akhirat, seorang mukmin juga harus punya prinsip seperti itu juga. Betapa tidak ringan, memaksa diri untuk shalat malam, untuk berpuasa, untuk menjauhi larangan Allah. Tetapi betapa bahagianya orang di surga kelak, ketika ia mendapati balasan dari Allah, mendapati pahala yang telah dijanjikan Allah. Sesungguhnya surga itu dicelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai. Sementara neraka dikelilingi dengan hal-hal yang disukai. Maka, untuk mengharap surga Allah, salah satu jalan yang harus dilalui adalah memaksa diri untuk memilih jalan yang ‘tidak kita sukai’, dan meninggalkan jalan yang lebih ’disukai’.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, "Hendaknya para orang tua selalu membiasakan anaknya untuk bangun di akhir malam. karena ia adalah waktu pembagian pahala dan hadiah (dari Allah). Maka di antara manusia ada yang mendapatkan bagian yang banyak, ada yang hanya mendapatkan sedikit, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkannya. Sesungguhnya jika seorang anak telah terbiasa bangun di akhir malam sejak masa kecilnya maka akan menjadi lebih mudah baginya untuk membiasakannya di masa dewasanya."(Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, 241)

3. Pemaksaan memberi contoh yang baik

Pemaksaan memang terkesan berkonotasi negatif dan semena-mena. Tapi dalam konteks kebaikan, manfaatnya bisa dirasakan langsung, baik oleh orang yang memaksa, orang yang menjadi objeknya, bahkan juga oleh orang lain yang hanya sekedar melihat dan memperhatikan. Bagi orang yang memaksakan kebaikan kepada orang lain, biasanya akan menjadi cambuk untuk dirinya sendiri agar tidak melanggar apa-apa yang ia paksakan pada orang lain. Ini artinya, ia akan terpacu untuk tampil lebih baik dan lebih disiplin. Karena mau tidak mau ia sadar dirinya akan menjadi contoh dan ditiru oleh orang lain. Bagi yang menjadi objek pemaksaan, dalam konteks amal-amal yang baik, ia pun akan mendapatkan manfaat pembinaan dirinya. Sementara bagi orang lain, yang melihat bentuk pemaksaan dan pendisiplinan itu, akan berbuah ketertarikannya pada kebaikan yang ia saksikan. Bisa jadi juga ia akan mengikuti kebaikan itu pada akhirnya.

Contoh baik seperti ini kemudian akan juga dirasakan oleh generasi selanjutnya. Biasanya, fenomena ini berlaku antara pimpinan dan bawahannya. Antara ketua dan anak buahnya. Juga antara orang tua dan anakanaknya. Lalu mengalirlah cerita indah kekaguman kita pada orang-orang yang memaksakan kita dengan kedisiplinan. Muncullah komentar-komentar tentang pemimpin dalam perusahaan yang berhasil membentuk suasana kondusif untuk bekerja dan produktif. Keluarlah pengakuan bahwa hasil paksaan itu pada akhirnya telah menciptakan jiwa yang siap bertarung, bermental kuat untuk menghadapi keadaan dan sebagai bekal dalam meniti hidup. Kita pun jadi mengerti betapa indahnya harga sebuah kedisiplinan yang meski dipaksakan pada awalnya.

4. Pemaksaan mengurangi kebiasaan buruk

Jiwa manusia mempunyai potensi baik dan buruk. Selalu terjadi tarik menarik antara dua potensi itu. Allah SWT menyinggung masalah ini dalam istilah jalan untuk fujur (dosa) dan jalan untuk taqwa. Dua jalan itu terhampar di hadapan setiap orang. Tentu saja, jalan dosa secara lahir kerap menipu dan memperdaya. Keburukan kerap diselimuti oleh sesuatu yang melenakan. Sebaiknya kebaikan kerap dikelilingi oleh sesuatu yang sepertinya melelahkan. Di sinilah perlunya pemaksaan terhadap jiwa. Kecenderungan pada keburukannya harus ditahan atau setidaknya diminimalisir. Orang akan cenderung memilih sesuatu yang sifatnya santai, tidak menanggung resiko, bebas, merdeka, tanpa merasa tertekan. Tapi ini harus dilawan. Karena bila tidak, kecenderungan buruk itu akan terus menerus merongrong tak kenal henti.

Pemaksaan bukan saja diperlukan karena alasan ketidakmengertian orang untuk melakukan sesuatu. Untuk seorang anak, mungkin ia tidak mengerti kenapa ia harus melakukan ini dan itu. Tapi bagi seorang dewasa, kecenderungan hati untuk santai, menunda-nunda pekerjaan, menganggap remeh suatu masalah, harus dipaksa untuk diminimalisir. Proses ini memang akan berat. Tapi biasanya keberatan itu hanya terjadi di awal-awalnya saja. Selanjutnya, bila telah terbiasa dilakukan, maka aktivitas yang tadinya dipaksakan malah bisa menjelma menjadi sesuatu yang rutin dilakukan secara sukarela. Dan bahkan terasa dibutuhkan. Seseorang menjadi tidak enak bila belum melakukan sholat wajib. Seseorang bisa menjadi gelisah bila lalai membaca Al Qur’an. Seseorang bisa merasa tidak tenang tatkala belum mengeluarkan uang untuk zakat. Dan seterusnya.

5. Pemaksaan adalah benteng pertahanan terbaik

Pemaksaan adalah benteng pertahanan diri yang terbaik. Menjadi baik harus dipaksa dan diawasi. Kita bisa perhatikan bagaimana saat ini prilaku korupsi tidak hanya dilakukan oleh pejabat, pengusaha, politisi, intelektual, dan kaum pegawai, tetapi juga oleh orang-orang yang berhubungan dengan lembaga-lembaga sosial, bahkan lembaga keagamaan. Di mana saja ketika ada kesempatan, orang akan melakukan korupsi. Dari kalangan atas hingga pegawai rendahan. Yang paling sederhana misalnya bisa ditemukan dalam bentuk pengutan dan tarikan iuran dari warga yang sering tidak dipertanggungjawabkan.

Kepanitiaan yang dibentuk dari warga sendiri tidak jarang juga berbuat nakal. Di kalangan pejabat dan kalangan atas lainnya korupsi tidak kalah atraktif. Seiring tuntutan pemberantasan korupsi-kolusi dan nepotisme (KKN), makin banyak pula kasus korupsi yang terkuak. Permainan akal-akalan antara pejabat dan pengusaha misalnya, telah mengakibatkan kerugian negara hingga ratusan triliun rupiah. Bagaimana mengerem itu semua? Dengan dipaksa agar keuangannya diaudit. Bisa dipaksa untuk tidak korupsi dengan ancaman hukuman penjara dan hukuman berat lainnya. Bisa dengan membentuk sistem organisasi yang bisa saling mengontrol dan sebagainya.

Dalam konteks pribadi, pemaksaan adalah benteng pertahanan paling ampuh untuk menahan arus hedonis, pelanggaran norma, kebebasan tanpa aturan, dan sebagainya. Karena tanpa adanya pemaksaan, yang lahir dari diri sendiri maupun orang lain, kuat kemungkinan kita akan terseret oleh arus-arus sosial yang kini menggejala di mana-mana.

Manfaat pemaksaan berbuat baik tak pernah habis. Karena saat perbuatan baik itu telah bisa dilakukan, maka itu adalah aset kebaikan yang terus mengalir. Mengalir, bagi orang yang melakukan pemaksaan, dan terutama bagi orang yang telah menjadi baik oleh pemaksaan itu. Ketika itulah, seseorang benar-benar menikmati indah dan manisnya sebuah pemaksaan. Wallahu’alam bishowwab.

Posted by hAiRiL/spiderman_pink at 23:41  

0 comments:

Post a Comment