Saatnya untuk Menikah

Monday, 28 April 2008


Penulis: M. Fauzil Adhim
Penerbit: Pro-U Media

Kalau canda seorang teman sudah tak lagi dapat menentramkan jiwa, kalau mata sudah tidak dapat lagi ditundukkan pandangannya dengan sempurna, kalau hati sudah senantiasa merasa gelisah, barangkali inilah saatnya untuk menikah bagi Anda.

Kalau tekad yang kuat sudah melekat dalam dada, kalau hasrat yang bersemangat sudah melahirkan usaha yang giat untuk mewujudkannya, dan kalau kesiapan untuk bertanggung jawab sudah tumbuh dalam diri kita, maka inilah saatnya untuk menikah.

Ya, Inilah Saatnya untuk Menikah!

Tetapi apakah yang dapat menjamin bahwa kita sudah siap? Kesiapan apa sajakah yang harus kita miliki? Apa yang harus kita lakukan jika kerinduan sudah meluap dan keinginan untuk berumah tangga sudah mantap, tetapi jodoh tak kunjung juga datang?

Buku ini akan bertutur kepada Anda. Dalam buku ini, Anda juga akan mendapati mengapa kita tidak sebaiknya terlalu meninggikan kriteria. Simak juga perihal keutamaan melihat orang yang mau kita nikahi. Sesuatu yang tampaknya sepele, tetapi karena begitu pentingnya sampai-sampai dibahas dalam dua bab. Satu lagi, perhatikan kembali sumber informasi Anda.

Nah, selamat membaca. Dan bersiap-siaplah untuk menikah. Inilah saatnya!

Review:
Buku ini dilandaskan pada pengalaman pribadi penulis dalam menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang, baik akhwat maupun ikhwan yang sudah berkeinginan untuk menikah. Menurutku, cara penyampaian seperti ini akan lebih mudah diserap karena tampak sangat nyata bagi pembacanya. Aku sendiri paling tertarik dengan bagian ini: dikatakan bahwa nazhar itu sangat penting untuk memperkuat ketetapan hati. Nazhar itu sendiri adalah melihat calon istri dan calon suami. Melihat disini dalam pengertian sebenarnya, yaitu fisiknya. Batasan melihat itu sendiri tidak ada, melainkan sangat tergantung pada calon suami atau calon istri. Inti nazhar adalah justru untuk menghindari keburukan setelah menikah. Nazhar justru untuk membuat orang yang akan meminang berketetapan hati untuk menikah karena ada hal-hal yang membuatnya tertarik.

Dikatakan penulis dalam halaman 208: pernikahan akan lebih mampu menundukkan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan apabila di dalamnya ditemukan cinta dan kebersamaan. Di sana, ada keindahan yang dapat direngkuh bersama-sama dan pintunya adalah wajah. Keindahan saat memandang pertama kali adalah gerbang. Lebih lanjut di halaman 215, laki-laki banyak yang tertarik secara fisi sebelum menikah, akan tetapi setelah menikah, penerimaan yang tulus, perhatian yang hangat, kesediaan untuk berjuang bersama-sama dan keselarasan pandangan hidup jauh lebih penting dari sekedar kecantikan.

Namun, nazhar tidak diperbolehkan apabila hanya untuk melihat tanpa bermaksud untuk meminang.

Kalau kita sudah bersungguh-sungguh menata diri, mempersiapkan hati dan mencari ilmu untuk menikah, tetapi belum datang-datang juga. Kalau kita sudah menyerahkan segalanya kepada Allah tentang siapa yang akan menjadi pendamping. Kalau kita sudah berusaha dengan sepenuh hati untuk menjemput jodoh, tetapi tetap tak kunjung terjawab kegelisahan itu. Kalau kita sudah didesak oleh kerinduan sembari di saat yang sama senantiasa menjaga diri. Maka, terlambatnya jodoh datang kepadamu merupakan ujian bagimu.

Kunci untuk mengatasi ujian itu adalah sabar dan sabar. Jangan mempersulit diri dan tetap bersabar. Kita dapat mengambil contoh kisah Nabi Zakaria yang sangat menginginkan seorang anak karena ia merasa kesepian yang amat sangat. Meskipun keadaan sudah tidak memungkinkan lagi, tapi karena kesabarannya, Nabi Zakaria akhirnya dianugerahi Allah seorang putra, yang kemudian dikenal dengan Nabi Yahya. Selain sabar, juga harus tetap berusaha. Termasuk tidak dilarang apabila perempuan menawarkan diri kepada seorang laki-laki yang diakuinya baik akhlak dan agamanya. Menawarkan diri itu sebaiknya melalui perantara, bisa kepada orang sudah sangat dipercayai, atau kepada ayahanda. Yang jelas, perantara tersebut diutamakan yang sudah lebih tua, karena biasanya yang lebih tua akan lebih mampu mengkomunikasikan maksud tersebut dengan cara yang lebih baik. Seperrti pengalaman Khadijah saat mencari informasi dan mengutarakan keinginan untuk menikahi Nabi Muhammad.

Posted by hAiRiL/spiderman_pink at 23:32  

0 comments:

Post a Comment