Pengantin Al-Quran: Kalung Permata buat Anak-anakku
Friday, 26 September 2008
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Tahun: 2007
Perkawinan adalah fithrah. Keterikatan antara seorang lelaki dan seorang perempuan merupakan kebutuhan setiap orang yang bersifat naluriah. Lebih dari itu, ia bahkan menjadi kebutuhan bagi kesempurnaan hidup manusia.
Dalam ajaran Islam, perkawinan merupakan anjuran bagi mereka yang telah dewasa lagi mampu. Allah memerintahkan kepada orang tua untuk mendukung perkawinan anak-anak mereka, dan jangan terlalu mempertimbangkan kemampuan materi calon pasangan. Namun, pada saat yang sama Allah juga memerintahkan mereka yang ingin menikah, tetapi tidak memiliki kemampuan material, untuk menahan diri dan memelihara kesuciannya.
Buku ini berisi nasihat-nasihat yang bisa dijadikan rujukan oleh setiap pasangan suami istri untuk meraih sakinah dalam kehidupan rumah tangga mereka. Sebab, perkawinan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya bertujuan mengantar suami istri merasakan bersama “ketenangan dinamis”, atau dalam istilah al-Qur’an disebut “sakinah”.
Buku ini bukan saja bermanfaat bagi mereka yang akan memasuki jenjang perkawinan, tetapi bagi mereka yang telah menikah pun akan mendapatkan banyak pencerahan yang sangat diperlukan dalam menciptakan keluarga sakinah. Karena sakinah bukanlah hadiah atau anugerah yang jatuh begitu saja dari langit. Tetapi ia merupakan suatu kondisi yang harus diperjuangkan perwujudannya lewat kesungguhan, kesabaran, dan pengorbanan!
***Setiap makhluk hidup mempunyai naluri kasih-sayang. Ikan dengan gigih mengarungi lautan hanya karena ingin bersua dengan pinangannya. Sepasang burung berkicau sambil menyusun sarangnya. Dan, manusia yang menyibukkan diri dengan sajak-sajak cinta dari zaman dahulu sampai sekarang. Semuanya berkeinginan untuk menjadi ’pengantin’ semasa hidupnya.
Lalu, kenapa dinamakan pengantin al-Qur’an? Apa gerangan yang dituturkan oleh al-Qur’an tentang perkawinan? Bagaimana menjalankan rumah tangga agar meraih kebahagiaan dunia-akhirat? Dan apa hubungannya dengan nilai-nilai budaya yang selama ini membingkai sebuah rumah tangga?
M. Quraish Shihab mengadreskan ”Pengantin al-Qur’an” pada surat ke-55 yang dinamai ’Arûs al-Qur’an yang lebih populer dinamakan ar-Rahmân. Sungguh indah dan anggun surah itu, bukan saja dari susunan kalimat yang memesona, tetapi juga dari pesan-pesan bahkan kesan-kesan yang ditimbulkannya (hal. X). Di dalamnya, terdapat aneka hiasan dan pakaian indah, mutiara, permata, dan manikan, dialah sesungguhnya pengantin, dengan segala kenikmatan, keindahan, kebahagiaan, dan kesempurnaan (ibid).
Semua keindahan itu bertolak dari kesadaran untuk besyukur dan tidak mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. Surat ar-Rahmân itu telah menggugah jin dan manusia dengan mengulangi 31 kali kalimat; ”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian berdua dustakan?”.
Perkawinan adalah manifestasi positif dari penciptaan mahluk hidup yang berpasang-pasangan oleh Allah Swt. (QS. Yâsîn [36]: 36). Islam datang mencoba menjernihkan stereotype yang dialamatkan pada perempuan. Terkenal ungkapan ”segala sisi dan yang berkaitan dengan perempuan itu buruk, dan yang terburuk di antaranya adalah dia mesti ada karena dibutuhkan laki-laki” (hal. 3).
Perkawinan dipandang sebagai cara hidup yang wajar dalam menjalani kehidupan. Ia melahirkan institusi keluarga sebagai unit terkecil tapi paling penting dalam masyarakat. Sementara, secara spiritual dimaksudkan sebagai wujud ketaatan atas ketetapan Tuhan (fitrah) yang diberlakukannya terhadap semua makhluk.
Selanjutnya, dalam kehidupan rumah tangga pasangan suami-istri harus mengutamakan dialog dalam menyelesaikan segala masalah. Harus dipupuk interaksi harmonis, karena tidak jarang kita mengarahkan banyak tenaga dan pikiran hanya untuk menguraikan persoalan sepele dan menjelaskan maksud baik yang disalahpahami (hal. 11).
Untuk menyulam interaksi harmonis ini diperlukan saling pengertian antara suami-istri. Laki-laki dan perempuan diumpamakan seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan dan harus saling melengkapi. Kedua belah pihak harus saling mengingat untuk berbuat baik menurut ajaran agama.
Interaksi harmonis itu tidak mungkin terjadi tanpa berusaha memelihara keseimbangan dan kebersamaan. Eksistensi manusia ditentukan oleh aneka keseimbangan; jasmani dan rohani, material dan spiritual, serta individual dan sosial. Sementara, kebersamaan diwujudkan dengan saling terbuka dalam segala hal untuk meraih gerak positif dalam menjalani rumah tangga.
Lewat buku ini M. Quraish Shihab seperti menuturkan ”nasihat-nasihat” untuk mengelola rumah tangga. Karena, buku ini sebelumnya merupakan kumpulan dari tiga buah buku yang sengaja dibuat untuk pernikahan ketiga putrinya tercinta; Najelaa Shihab, Najwa Shihab, dan Nasywa Shihab. Pembaca dengan mudah akan merasakan ”getaran kasing sayang” seorang bapak kepada anaknya yang tercinta.
Inilah buku yang secara emosianal bisa dibilang sreg untuk melatih diri menasehati kebaikan berumah tangga dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Setiap kali menyuguhkan nilai-nilai budaya tentang rumah tangga, selalu dikonfirmasikan pada nilai-nilai al-Quran, karena ini sesuai dengan bidang penulisnya yang selama ini kita kenal. Terakhir, selamat membaca! (MSadili)
***
Dalam al-Quran, ada satu surah yang dinamai ‘Arusulquran atau pengantin al-Quran, yaitu surah kelima puluh lima. Popular juga dengan nama ar-Rahman (Allah penagugerah limpahan rahmat). Sungguh indah dan anggun surah itu, bukan saja dari susunan kalimatnya yang memesona, tetapi juga dari pesan-pesan bahkan kesan-kesan yang ditimbulkannya. Agaknya tidak ada surah dalam al-Quran seindah ini. Memang wajar ia dinamai demikian-tulis Albiqa’iy dalam tafsirnya yang bernama Nazem Addurar (Untaian Permata), karena surah ini mengandung aneka hiasan dan pakaian indah, mutiara, permata dan manikin,… dialah pengantin sesungguhnya, dengan segala kenikmatan, keindahan , kebahagiaan dan kesempurnaan.
Surah ini diakhiri dengan melukiskan bidadari-bidadari yang baik lagi cantik, jelita, putih bersih, tekun berada di kediaman mereka, tidak pernah disentuh kecuali oleh pasangan mereka, bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah. Sungguh Maha Agung Allah, Tuhan Pemilik Kebesaran dan Pemberi Anugerah. Demikian bebrapa ayat terakhir yang diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan menggugah.
Tahukah kita, apa isi pesan-pesan Pengantin al-Quran? Intinya adalah perintah untuk bersyukur,… tidak mengingkari atau melupakan nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan-Nya. Di sanalah dikemukakan aneka nikmat Illahi, yang dapat diraih makhluk-Nya, di dunia dan akhirat kelak. Tiga puluh satu kali surah ini menggugah pikiran dan hati manusia serta jin dengan pertanyaan “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?”.
Syukur berarti menggunakan segala daya untuk memfungsikan segala nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
Nikmat-nikmat duniawi yang beraneka ragam manfaatnya, yang disampaikan pada awal surah ini, diselingi delapan kali pertanyaan yang menggugah di atas, yang disusul dengan peringatan-Nya, yang diselingi dengan tujuh pertanyaan serupa. Kemudian diuraikannya keindahan dan kenyamanan dua macam surga, masing-masing dengan delapan kali pertanyaan “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?”.
Kata ulama melukiskan kesan mereka; “Siapa yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkann-Nya di dunia ini, maka dia akan selamat dari ketujuh pintu neraka yang dilambangkan dengan tujuh pertanyaan menggugah di atas, dan dia akan dipersilahkan masuk melalui salah satu dari pintu-pintu surga yang jumlahnya ada delapan untuk setiap macam surga”. Subhanallah.
Asam Garam Gula & Kopi
Friday, 12 September 2008
Penulis: Abd. Jalil Ali
Setiap perkara yang kita lakukan dalam kehidupan ini bermula dari angka sifar. Begitu juga ibaratnya sebuah perkahwinan. Bertatih dari tingkat pertama hinggalah berjaya membina sebuah rumah tangga yang aman dan bahagia.
Buku Asam Garam Kopi & Gula ini merupakan kompilasi pelbagai cerita dari Majalah Pesona Pengantin dan Majalah Seri Dewi & Keluarga tentang gelagat lelaki dan wanita sebelum dan selepas menempuh alam perkahwinan.
Pelbagai kisah dan kerenah yang melucukan dipaparkan dari pandangan mata pena penulis. Setiap artikel cukup menarik kerana ia ditulis dengan gaya yang santai dan bahasa yang humor. Namun di sebalik ketawa dan senyuman, ia sebenarnya mengandungi mesej teladan dan sempadan terutama bagi mereka yang akan melangsungkan perkahwinan.
Bermula dari risik merisik, bunga telur, malam pertama, mengandung anak sulung dan berpoligami, semuanya mengandungi nasihat dan asuhan. Cuma terpulang pada kebijaksanaan kita sebagai suami dan isteri untuk membina rumah tanggah dengan markah yang lebih cemerlang.
Semerbak Malam Pertama
Saturday, 16 August 2008
Penulis: Majdi Fathi Sayyid
Malam pertama pernikahan adalah malam yang begitu istimewa bagi sepasang pengantin yang baru saja menikah. berdebar-debarnya hati, rasa canggung yang masih menggelayuti hati sepasang mempelai, dipadu dengan perasaan 'malu-malu tapi mau', menjadikan malam itu begitu berkesan sepanjang usia.
Rasulullah SAW telah memberikan 'juklak' nabawiyyah yang begitu indah bagi sepasang mempelai agar kcduanya sukses menjalani malam pertama pernikahan. Dan buku yang ada di tangan Anda ini berisi 32 wasiat Rasulullah SAW kepada sepasang pengantin dalam menjalani malam pertama yang mendebarkan. Wasiat-wasiat Rasul berkaitan dengan pernikahan, panduan berhubungan intim, dan seputar pelaksanaan pesta pernikahan (walimah) dijabarkan dalam buku ini sccara ringkas namun gamblang, sehingga buku ini enak dibaca; tidak terbelit oleh uraian bcrtele-tele yang rurmt.
Sudah selayaknya umat Rasulullah SAW yang selalu merindukan hidup di bawah naungan teduh sunnah nabawiyyah memberikan perhatian yang serius terhadap wasiat-wasiat Kasul yang diuraikan dalam buku ini, terutama bagi ikhwah fillah yang telah bersiap-siap memasuki gerbang pcrnikahan yang agung. Kiranya kebahagiaan yang tersemat dalam kchidupan Anda akan scmakin bertambah, tatkala Anda mampu mewujudkan malam pertama pernikahan yang indah, romantis, dan --tentu saja-- nyunnah.
Di Atas Sajadah Cinta
Sunday, 20 July 2008
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.
Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.
Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.
Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,
“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.
qad aflaha man zakkaaha.
wa qad khaaba man dassaaha…”
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,
sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya…)
Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?
Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.
***
Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.
Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,
“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si
musyriqun bi dhau’
wal hubb al wariq…”
(jika aku pencinta malam maka
gelasku memancarkan cahaya
dan cinta yang mekar…)
***
Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”
“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”
“Bagaimana, kau terima atau…?”
“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”
“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”
“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”
“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”
“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”
***
Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.
“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.
“Be…benarkah?”
“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”
“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”
Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,
“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”
Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.
***
Keesokan harinya.
Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.
Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,
“Toloong! Toloong!!”
Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.
“Toloong! Toloong!!”
Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.
“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”
Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,
“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”
Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,
“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”
Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,
“Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,
“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”
Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.
“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”
“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”
“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.
“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”
“Aku mau melanjutkan perjalananku!”
Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”
Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.
“Tidak usah.”
“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”
Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.
***
Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.
Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,
“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”
Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,
“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”
Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.
***
Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.
“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.
Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.
Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.
“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”
Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,
“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”
***
Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.
Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,
“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”
Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.
***
Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.
Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,
Kepada Zahid,
Assalamu’alaikum
Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.
Zahid,
Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.
Wassalam
Afirah
===============================================================
Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.
Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :
Kepada Afirah,
Salamullahi’alaiki,
Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.
Afirah,
Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )
Afirah,
Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :
“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”
Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.
Afirah,
Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.
Wassalam,
Zahid
===============================================================
Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.
Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.
Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :
Kepada Zahid,
Assalamu’alaikum,
Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.
Wassalam,
Afirah
===============================================================
Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.
Keluarga Bersendi Takwa
Monday, 23 June 2008
Penulis: Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarni
Penterjemah: Ramlah Rashid
Penerbit: Jasmin Enterprise
ISBN 983-3423-79-5
Harga: RM 27.50
Berat: 0.525kg
Tebal: 384muka surat
Cetakan 2006M/1426H
Buku KELUARGA BERSENDI TAKWA ini merupakan sebuah buku yang berisi formula Islami membentuk sebuah rumah tangga dan memantapkannya supaya terwujud satu keluarga yang rukun, kukuh, sihat serta harmoni. Lebih penting lagi ialah keluarga tegak yang selari dengan tuntutan Islam, iaitu yang diasaskan di atas prinsip taqwa.
Dengan kata lain, buku ini ditulis untuk dijadikan panduan hidup berumah tangga dan memantapkan institusi keluarga berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Bagaimana pula dengan seorang anak yang hidup dalam istana serta banglo yang megah, kemudian merendah dan menghina kedua-dua ibu bapanya?
Bagaimana pula dengan orang yang lebih mengutamakan isteri berbanding ibunya?
Bagaimana pula dengan orang yang kasar dalam bercakap dan tidak beradab ketika menyahut?
Itulah gambaran-gambaran yang berulang-ulang dalam masyarakat kita dan kita sering melihat dan mendengarnya.
Wanita yang pertama berkata: “Suamiku adalah daging unta jantan kurus di atas puncak gunung. Tidak mudah untuk dinaiki dan tidak gemuk sehingga mudah dipindah.”
Yang kedua berkata: “Tentang suamiku, aku tidak ingin menyebarkan beritanya. Sesungguhnya aku takut untuk mengatakannya. Jika aku mengingatnya, maka aku akan mengingat aib dan cacatnya.”
Yang ketiga berkata: “Suamiku orang yang buruk akhlaknya, jika aku bercakap, maka aku akan ditalak dan jika aku diam, maka aku terkatung-katung.”
… milikilah buku ini untuk mendalami ilmu berumahtangga.
Kandungan:
1. Jangan sesekali menengking ibu atau bapa
2. Keluh-kesah kedua ibu bapa
3. Dialog Allah denagn Rahim (ikatan persaudaraan)
4. Suasana dan persekitaran rumah
5. Asas-asas pendidikan dari Nabi S.A.W.
6. Nasihat dan pesanan keapda para ibu bapa
7. Layanan Nabi S.A.W. terhadap kana-kanak
· Nabi Muhammad amat menyayangi kanak-kanak
· Pendekatan Nabi S.A.W. mendidik kanak-kanak
· Kasih sayang Nabi S.A.W. kepada kanak-kanak
· Hukum-hakam berkenaan kanak-kanak
· Kematangan kanak-kanak zaman dahulu
8. Menyambut cahaya mata
· Tarif Aqiqah
· Hukum Aqiqah
· Maksud membuang kotoran
· Maksud tergadai
· Tujuan memberi nama
· Hadith “Dua ekor kambing yang sama”
· Hadith “Kami melumurinya dengan za’faran”
· Nabi mengaqiqahkan Hasan dan Husain
· Bersedekah dengan Perak
· Mengazankan anak baru lahir
· Suruhan menyuap bayi (tahnik)
· Memilih nama yang elok
· Bolehkah beraqiqah denga selain kambing?
· Adakah syarat aqiqah sama dengan syarat berkorban?
· Masa menyembelih aqiqah
9. Hak-hak anak ke atas ibu bapa
10. Hak- hak anak ke atas bapa
· Memilih Isteri (bakal ibu) yang solehah
· Memilih nama yang bagus
· Menyusukan anak sesuai dengan ajaran Islam
· Menerusi keteladanan
· Menyuruh Solat
11. Hendaklah menjaga solat
12. Memelihara solat teramat penting
13. Suruhan melindungi kaum wanita
14. Apa yang boleh kami Bantu, wahai saudariku?
15. Suka duka seorang gadis
16. Wanita dan keimanan
17. Pelbagai kemusykilan wanita muslimah
18. Gadis yang dihimpit tekanan batin
· Surat rintihan seorang gadis yang malang
19. Ciri-ciri wanita yang beriman
· Ciri-ciri wanita Islam
20. Jangan perkecilkan kebaikan suami
· Memetik faedah daripada hadith
21. Percakapn ibu-ibu yang jahat (ummu zara’)
Ketika Cinta Bertasbih
Wednesday, 11 June 2008
Ketika Cinta Bertasbih Episod 1 & 2
Pengarang: Habiburrahman El Shirazy
Entah kenapa tiba-tiba ia merasa berdosa. la merasa berdosa dan jijik pada dirinya sendiri yang begitu rapuh, mudah terperdaya oleh tampilan luar yang menipu. la jijik pada dirinya sendiri yang ia rasa terlalu cair pada lawan jenis yang belum halal baginya. la hairan sendiri kenapa jati dirinya seolah pudar saat berhadapan atau berdekatan dengan Eliana. Apakah telah sedemikian lemah imannya sehingga kecantikan jasadi telah sedemikian mudah menyihir dirinya. la beristighfar dalam hatinya. Berkali-kali ia meminta ampun pada Dzat yang menguasai hatinya.
Azzam meratapi kekhilafannya dan memarahi dirinya sendiri. Dalam hati ia bersumpah akan lebih menjaga diri, dan hal yang menistakan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. la juga bersumpah untuk segera menemukan orang yang tidak kalah hebatnya dengan Eliana, tapi bertudung litup, solehah, boleh berbahasa Arab dan berbahasa Inggeris dengan fasih. Kalau terpaksa gadis itu orang Mesir tidak mengapa. Yang jelas rasa terhinanya harus ia sirnakan.
la harus menemukan kembali kehormatannya sebagai seorang Azzam yang memiliki harga diri. Meskipun masyarakat Indonesia di Mesir mengenalinya hanya sebagai tukang masak atau penjual tempe, tapi harga diri dan kesucian diri tidak boleh diremehkan oleh siapapun juga. la yakin akan memperolehi isteri yang lebih jelita dari Eliana, dan lebih baik darinya. la yakin itu tekadnya. la ulang-ulang tekad itu dalam hatinya. la rajut dengan doa. la bawa tekad itu ke dalam tidurnya. Ke dalam mimpinya. Dan ke dalam alam bawah sedarnya.
Soal Jawab Pra Perkahwinan
Saturday, 31 May 2008
Penulis: Dato' Dr. Mohd Fadzilah Kamsah & Noralina Omar
Penerbit: PTS Publications & Distributors Sdn Bhd
Soal jawab praperkahwinan adalah buku yang menjawab persoalan yang sering ditanya oleh bakal pengantin. Buku ini membantu mereka supaya bersedia dan bermaklumat sebelum melangkah ke gerbang perkahwinan.
Buku ini menjawab persoalan berkaitan memilih pasangan, dating, hantaran, maskahwin dan apa itu alam percintaan. Antara perkara lain yang terjawab di dalam buku ini berkaitan prosedur perkahwinan di Malaysia, mengetahui cara mengadakan hubungan sosial dengan keluarga baru dan perbincangan berkaitan pengetahuan seksual dan kesihatan. Setiap perkara yang dibincangkan mengikut norma masyarakat dan belandaskan Islam.
Bagi pembaca golongan kauselor, pendakwah, pakar motivasi dan pendidik, buku ini dapat dijadikan sumber rujukan dalam menangani masalah klien ataupun menyampaikan ilmu.
Aku Terima Nikahnya
Tuesday, 20 May 2008
JUDUL BUKU: AKU TERIMA NIKAHNYA
PENULIS: Hasrizal Abdul Jamil (www.saifulislam.com)
ISBN: 978-983-097-189-6
1. Marriage — Religious aspects — Islam
2. Family — Religious aspects — Islam
3. Domestic relations
PENERBIT: Galeri Ilmu Sdn. Bhd.
161-A, Jalan Aminuddin Baki,
Taman Tun Dr. Ismail,
60000 Kuala Lumpur.
Telefon: 03-77260772
Faks: 03-77271796
www.galeriilmu.com.my
"Tarikh bertunang sudah dipersetujui, cuma "Mak" nak tanya sesuatu. Kamu pernahkah melihat yang empunya diri?" bakal ibu mentua saya bertanya. Beliau sudahpun membahasakan dirinya "Emak".
"Belum, Mak," saya menjawab sambil tersenyum.
Saya dapat melihat wajah abang saya yang begitu terkejut. Macam mana adiknya boleh bersetuju untuk berkahwin dengan seorang yang belum pernah ditemui?
Rakan-rakan yang mendapat tahu tentang pertunangan saya dengan seorang bakal doktor amat terkejut.
"Anta gilakah, Hasrizal? Kahwin dengan doktor? Anta tak takut kena tinggal?"
AKU TERIMA NIKAHNYA adalah rakaman pengalaman penulis dalam membina damai pada sebuah kehidupan berumah tangga. Segalanya bermula dengan menilai cara diri memandang perkahwinan itu sendiri. Melihat perkhawinan sebagai medan untuk menerima, menjadikan kita sering gelisah dan hidup meminta-minta. Melihat perkhawinan sebagai medan untuk memberi, akan menjadikan kita lebih memikirkan soal PERANAN dan bukannya HAK yang tidak berkesudahan.
Diolah dalam gaya santai dan pendekatan bercerita, dengan dialog-dialog biasa yang merencahi kehidupan sekitar dunia rumah tangga, buku ini menjanjikan pengalaman membaca yang mengasyikkan. Suami mahupun isteri dibawa menghargai keunikan diri masing-masing, mengiktiraf kelebihan dan mengakui kelemahan, lalu belajar untuk saling memahami... demi menyempurnakan perjalanan sebuah rumah tangga berbekalkan syariat Allah dan sunnatullah.
http://saifulislam.com
Nama-nama Indah untuk Anak Anda
Friday, 9 May 2008
Penulis: Khaddijah A.Q Al-Mutawakkil
Penerbit: Pustaka Al Kautsar
Nama mengandung banyak makna. Rasulullah menyuruh kita memberi nama anak-anak kita yang mengandung makda do'a, pujian dan harapan. Pentingnya nama ini digambarkan oleh sabda beliau:
"Sesungguhnya kamu sekalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama kamu sendiri dan nama bapak kamu. Karena itu, hendaklah kamu perindahkan nama kamu."
Untuk itulah baguskanlah nama anak-anak kita dengan memilihkan nama-nama yang indah dan islami, bukan sekadar latah mengikut nama-nama orang kafir yang tanpa makna. Buku ini memberikan sejumlah nama pilihan yang sangat cocok buat nama anak dan keluarga anda.
Saatnya untuk Menikah
Monday, 28 April 2008
Penulis: M. Fauzil Adhim
Penerbit: Pro-U Media
Kalau canda seorang teman sudah tak lagi dapat menentramkan jiwa, kalau mata sudah tidak dapat lagi ditundukkan pandangannya dengan sempurna, kalau hati sudah senantiasa merasa gelisah, barangkali inilah saatnya untuk menikah bagi Anda.
Kalau tekad yang kuat sudah melekat dalam dada, kalau hasrat yang bersemangat sudah melahirkan usaha yang giat untuk mewujudkannya, dan kalau kesiapan untuk bertanggung jawab sudah tumbuh dalam diri kita, maka inilah saatnya untuk menikah.
Ya, Inilah Saatnya untuk Menikah!
Tetapi apakah yang dapat menjamin bahwa kita sudah siap? Kesiapan apa sajakah yang harus kita miliki? Apa yang harus kita lakukan jika kerinduan sudah meluap dan keinginan untuk berumah tangga sudah mantap, tetapi jodoh tak kunjung juga datang?
Buku ini akan bertutur kepada Anda. Dalam buku ini, Anda juga akan mendapati mengapa kita tidak sebaiknya terlalu meninggikan kriteria. Simak juga perihal keutamaan melihat orang yang mau kita nikahi. Sesuatu yang tampaknya sepele, tetapi karena begitu pentingnya sampai-sampai dibahas dalam dua bab. Satu lagi, perhatikan kembali sumber informasi Anda.
Nah, selamat membaca. Dan bersiap-siaplah untuk menikah. Inilah saatnya!
Review:
Buku ini dilandaskan pada pengalaman pribadi penulis dalam menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang, baik akhwat maupun ikhwan yang sudah berkeinginan untuk menikah. Menurutku, cara penyampaian seperti ini akan lebih mudah diserap karena tampak sangat nyata bagi pembacanya. Aku sendiri paling tertarik dengan bagian ini: dikatakan bahwa nazhar itu sangat penting untuk memperkuat ketetapan hati. Nazhar itu sendiri adalah melihat calon istri dan calon suami. Melihat disini dalam pengertian sebenarnya, yaitu fisiknya. Batasan melihat itu sendiri tidak ada, melainkan sangat tergantung pada calon suami atau calon istri. Inti nazhar adalah justru untuk menghindari keburukan setelah menikah. Nazhar justru untuk membuat orang yang akan meminang berketetapan hati untuk menikah karena ada hal-hal yang membuatnya tertarik.
Dikatakan penulis dalam halaman 208: pernikahan akan lebih mampu menundukkan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan apabila di dalamnya ditemukan cinta dan kebersamaan. Di sana, ada keindahan yang dapat direngkuh bersama-sama dan pintunya adalah wajah. Keindahan saat memandang pertama kali adalah gerbang. Lebih lanjut di halaman 215, laki-laki banyak yang tertarik secara fisi sebelum menikah, akan tetapi setelah menikah, penerimaan yang tulus, perhatian yang hangat, kesediaan untuk berjuang bersama-sama dan keselarasan pandangan hidup jauh lebih penting dari sekedar kecantikan.
Namun, nazhar tidak diperbolehkan apabila hanya untuk melihat tanpa bermaksud untuk meminang.
Kalau kita sudah bersungguh-sungguh menata diri, mempersiapkan hati dan mencari ilmu untuk menikah, tetapi belum datang-datang juga. Kalau kita sudah menyerahkan segalanya kepada Allah tentang siapa yang akan menjadi pendamping. Kalau kita sudah berusaha dengan sepenuh hati untuk menjemput jodoh, tetapi tetap tak kunjung terjawab kegelisahan itu. Kalau kita sudah didesak oleh kerinduan sembari di saat yang sama senantiasa menjaga diri. Maka, terlambatnya jodoh datang kepadamu merupakan ujian bagimu.
Kunci untuk mengatasi ujian itu adalah sabar dan sabar. Jangan mempersulit diri dan tetap bersabar. Kita dapat mengambil contoh kisah Nabi Zakaria yang sangat menginginkan seorang anak karena ia merasa kesepian yang amat sangat. Meskipun keadaan sudah tidak memungkinkan lagi, tapi karena kesabarannya, Nabi Zakaria akhirnya dianugerahi Allah seorang putra, yang kemudian dikenal dengan Nabi Yahya. Selain sabar, juga harus tetap berusaha. Termasuk tidak dilarang apabila perempuan menawarkan diri kepada seorang laki-laki yang diakuinya baik akhlak dan agamanya. Menawarkan diri itu sebaiknya melalui perantara, bisa kepada orang sudah sangat dipercayai, atau kepada ayahanda. Yang jelas, perantara tersebut diutamakan yang sudah lebih tua, karena biasanya yang lebih tua akan lebih mampu mengkomunikasikan maksud tersebut dengan cara yang lebih baik. Seperrti pengalaman Khadijah saat mencari informasi dan mengutarakan keinginan untuk menikahi Nabi Muhammad.
Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah
Thursday, 17 April 2008
Penulis: Cahyadi Takariawan
Panduan Merencanakan Pernikahan
Hingga mencapai Kebahagiaan Puncak dalam Rumah Tangga
Pernikahan adalah akad untuk beribadah kepada Allah SWT, akad untuk menegakkan syariah Allah SWT, dan akad untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Pernikahan adalah akad untuk meninggalkan kemaksiatan, akad untuk saling mencintai karena Allah SWT, akad untuk saling menghormati dan menghargai, akad untuk saling menerima apa adanya, akad untuk saling menguatkan keimanan, akad untuk saling membantu dan meringankan beban, akad untuk saling menasehati serta akad untuk setia kepada pasangannya, baik dalam suka maupun duka, dalam kefakiran dan kakayaan, juga dalam sakit dan sehat.
Pernikahan berarti akad untuk meniti hari - hari dalam kebersamaan, akad untuk saling melindungi, akad untuk saling memberikan rasa aman, akad untuk saling mempercayai, akad untuk saling menutup aib, akad untuk saling mencurahkan perasaan, akad untuk berlomba menunaikan kewajiban, akad untuk saling memaafkan kesalahan, akad untuk menyimpan dendam dan kemarahan serta akad untuk tidak saling mengungkit - ungkit kelemahan, kekurangan dan kesalahan.
Pernikahan adalah akad untuk tidak melakukan pelanggaran, akad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan, akad untuk tidak saling menyakiti badan, akad untuk lembut dalam perkataan, akad untuk santun dalam pergaulan, akad untuk indah dalam penampilan, akad untuk mesra dalam mengungkapkan keinginan, akad untuk menumpahkan kasih sayang, akad untuk saling merindukan, akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak, akad untuk tidak saling membiarkan dan akad untuk tidak saling meninggalkan.
Pernikahan juga bermakna akad untuk menebarkan kebajikan, akad untuk mencetak generasi berkualitas, akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak - anak, dan akad untuk membangun peradaban masa depan.
PERNIKAHAN adalah AKAD untuk segala hal yang bernama KEBAIKAN!!!
Aktivis dakwah memiliki tatangan yang unik. Ada perbedaan yang khas dibanding keluarga pada umumnya; jarangnya waktu untuk bertemu di saat keluarga lain bercengkerama di hari keluarga, kurangnya privacy bahkan di saat istirahat, dan sejumlah masalah khas lain. Mereka ini perlu resep yang pas agar penikahannya tetap sakinah. Di buku ini, Pak Cah menyuguhkan kepada Anda bagaimana menggapai sakinah semenjak titik awal menentukan jodoh. Pak Cah meramunya dengan kekayaan pengalaman yang ditulis dengan bahasa sederhana
Mohammad Fauzil Adhim, penulis senior
Bagi para aktivis, keluarga adalah tempat menyerap energi untuk memikul beban dakwah yang kian hari kian berat. Maka nikmatilah suasana keluarga agar sempurna energi Anda
Anis Matta, politikus anggota DPR RI
Seperti awan kecil yang menjelma hujan, lalu melukis hijau pada bumi. Demikianlah buku ini, meredakan kehausan akan hikmah.
Izzatul Jannah, novelis
Tombo Ati - Cerdas Mengobati Hati Sendiri
Sunday, 6 April 2008
Penulis: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
Ketika kepala sakit atau gigi terasa nyeri Anda mungkin sangat pandai dan cerdas menentukan obat tertentu untuk penyakit itu. Tetapi apakah Anda juga pandai dan mengerti obat ketika hati Anda sakit terserang virus dengki misalnya? Ironinya lagi, kita bukan saja tidak tahu apa obat penyakit hati tetapi bahkan kita tidak tahu apakah hati kita dalam keadaan sakit atau tidak. Padahal dampak penyakit hati jauh lebih berbahaya bagi kehidupan kita daripada sekadar penyakit fisik. Al-Qur'an menggambarkan orang sakit hati sebagai orang yang rugi dunia akhirat, itulah bentuk kerugian yang sangat nyata. (al-Hajj [22]: 11)
Karena itu sungguh kita harus lebih mengerti tentang penyakit hati dan obatnya serta cara mengobatinya melebihi pengetahuan kita tentang penyakit fisik. Kita harus pandai mengobati hati kita sendiri kalau kita tidak mau rugi dalam hidup ini.
Buku ini ditulis oleh seorang ulama yang memang diakui kompetensinya dalam bidang penyakit hati yang akan mengajari bagaimana cara cerdas mengobati hati sendiri.
Terapi Penyakit Hati
Thursday, 27 March 2008
Penulis: Ibnul Qoyyim al-Jauzi
Hati yang resah, gelisah, hati yang merasa sakit, hati yang tergores dan luka, hati yang marah, iri, dengki, lelah, lunglai seolah tanpa sinar dan energi, adalah hati yang sedang mengalami sesuatu. Hati yang memang bagai perahu itu terlalu banyak muatan dan berlobang, akan tenggelamlah ia. Begitu pula hati manusia. Bila dimuati banyak dosa, noda, bercak, akan tenggelamlah dirinya sebagai manusia. Apa, mengapa, dan bagaimana yang demikian ini?
Ibnul Qoyyim, sebagai seorang ulama yang jiwanya jeli menangkap gejala-gejala jiwa dan kalbu manusia, dengan mata hatinya sebagai orang alim, berusaha mendata, mendiagnosa, memberi terapi dan jalan pengobatnya, agar jiwa manusia yang tenggelam mampu menggapai tepian pegangan; agar kalbu manusia terentas dari daki-daki yang diperbuatnya sendiri; agar badai dosa terlerai tak memusnahkannya.
Pendek kata, setiap manusia mengalami apa yang diperbincangkan buku ini dan membuttuhkan terapi yang diberikan. Coba kita bedah diri kita dengan buku ini!
Tersenyumlah
Sunday, 16 March 2008
Penulis: Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni
Halaman: 280 halaman
Suatu pagi, seorang Arab Badui ingin ikut shalat Shubuh berjamaah. Ketika itu sang imam membaca surah al-Baqarah, padahal saat itu orang Badui tersebut sedang terburu-buru karena suatu keperluan. Akibatnya, ia tidak dapat memenuhi keperluannya itu. Pada esok harinya, ia kembali ingin mengikuti shalat Shubuh berjamaah. Ketika imam mulai membaca surah al-Fiil, orang Badui tersebut langsung pergi seraya berkata, “Ini pasti lebih lama lagi! Bukankah Al-Fiil (gajah) lebih besar dari al-Baqarah (sapi)?”
***
Diriwayatkan bahwa seseorang pernah mengunjungi orang yang sakit, kemudian ia berkata kepadanya, "Apa penyakitmu ?" Ia menjawab, "Sakit di lutut". Ia berkata lagi, "Saya pernah mendengar satu bait syair yang diucapkan Jarir, tapi saya lupa awal syair tersebut, yang saya ingat adalah bagian akhirnya yang berbunyi, "Dan tidaklah penyakit dua lutut itu ada obatnya". Mendengar perkataannya itu, orang yang sakit itu berkata, "Alangkah baiknya seandainya bagian awal syair itu hilang bersama dirimu"
***
Seseorang datang kepada seorang ulama fikih untuk bertanya. Ia berkata, "Saya setiap kali menyelam ke sungai sebanyak dua atau tigak kali, masih tidak yakin apakah tubuh saya sudah terbasahi air seluruhnya, juga apakah saya sudah suci. Maka, apa yang mesti saya lakukan? Ia menjawab, "Jangan sholat!" Ada yang bertanya, "Kenapa kau berkata seperti itu?". Ia berkata, "Karena Nabi SAW bersabda bahwa beban hukum itu diangkat dari tiga jenis orang: yaitu anak kecil hingga baligh, orang yang sedang tidur hingga ia terbangun, dan orang gila hingga ia sadar. Dan orang yang sudah menyelam dua kali atau tiga kali, kemudian masih mengira bahwa ia belum mandi, berarti ia gila."
***
Ada seorang ulama fikih yang tinggal di sebuah rumah yang langit-langit rumahnya selalu berderit sepanjang waktu. Kemudia pemilik rumah datang menagih sewa rumahnya. Maka ulama itu berkata, "Perbaiki dahulu langit-langit rumah ini, karena ia selalu berderit!" Orang itu menjawab, "Jangan takut, ia sebenarnya sedang bertasbih kepada Allah." Ulama itu berkata, "Saya khawatir jika dia hanyut dalam tasbihnya, tiba-tiba dia sujud..."
***
Seseorang yang beragama Majusi mati dengan meninggalkan utang. Para pemilik piutang datang kepada anaknya dan berkata, "Jual saja rumahmu untuk meringankan beban ayahmu." Sang Anak pun menjawab, "Apa jika rumah ini saya jual dan saya lunasi utang ayah saya, maka ia akan masuk surga?" Mereka berkata, "Tidak." Maka anak itu menjawab, "Kalau begitu biarkan ia tinggal di neraka, dan aku tinggal di rumah ini."
***
Pada suatu hari seseorang yang buruk rupanya memegang jenggot Jahizh. Namun, Jahizh diam saja. Maka, orang itu berkata, "Hei mengapa engkau tidak berdoa untukku?" Jahizh menjawab, "Saya tidak tega berdoa agar Allah menghilangkan keburukan darimu. Karena jika doaku dikabulkan, maka engkau tidak mempunyai wajah lagi."
***
Sepasang pengantin baru sedang bercakap-cakap di kamar tidur mereka. Pengantin pria pun mulai bercerita tentang ibunya. Ketika ia lama sekali bercerita, sang pengantin wanita pun jadi jengkel. Lalu ia marah pada pasangannya itu dan berkata," APa kamu gak bisa berbuat hal 'lain' selain bercerita tentang ibumu itu?" Sang pengantin pria menjawab, "Tentu saja bisa. Setelah bercerita tentang ibuku, aku akan bercerita tentang ayahku."
***
DARI judulnya saja, menggelitik kita untuk mengetahui isi buku setebal 280 halaman ini. Setelah membuka halaman pertama, kita terdorong untuk membuka halaman selanjutnya, dan baru berhenti setelah sampai di halaman terakhir, tanpa lelah, karena asyik membaca sambil tersenyum atau tertawa.
Ya, buku berjudul, Tersenyumlah ini memang patut untuk dibaca. Meskipun buku ini lahir dari Timur Tengah, buku ini jauh dari image yang melekat dari buku terbitan Timur Tengah yang biasanya dicetak apa adanya, tanpa sentuhan seni dan cenderung monoton.
Buku yang diterbitkan Gema Insani Press (GIP) ini, memuat kumpulan humor islami yang sangat bervariasi, mulai dari yang klasik hingga yang lahir pada dekade terakhir. Yang membuat buku ini tambah menarik, humor-humor yang disajikan bukanlah sekadar lelucon murahan, melainkan humor-humor yang cerdas. Bahkan kadang kala untuk bisa tertawa pun, pembaca dituntut untuk mengerutkan kening terlebih dahulu. Karena di balik humor-humor cerdas ini, sarat dengan nilai dan hikmah.
Dalam menulis buku ini, Aidh Al Qarni banyak menggunakan kitab klasik seperti, Akhbaarul Hamqaa wal Mughaffaliin, Akhbaarul Adzkiyaa, Akhbaaruzh Zhuraaf wal Mutamajniin karya Ibnul Jauzy dan banyak lagi kitab-kitab lainnya. Penggunaan kitab-kitab ulama terdahulu sebagai referensinya menjadikan buku humor ini sebagai buku humor yang berkelas dan bukan kacangan.
Tersenyumlah, dunia akan menjadi milik Anda. Setidaknya, begitu ajakan dari buku ini. Senyum memang sebuah kata sederhana, namun memiliki makna yang sangat berarti. Hanya dengan mengembangkan senyum, sudah dinilai sebagai sedekah. Betapa sederhana tampaknya, namun tak mudah juga melakukannya, kecuali bagi orang-orang berhati ikhlas. Mereka yang mampu tersenyum adalah mereka yang ingin membagi kebahagiaannya dengan orang lain. Mereka yang ingin menggugurkan kesedihannya untuk diganti dengan kepasrahan dan tawakal, yang berujung pada kebahagiaan juga.
Mereka yang pandai tersenyum, adalah mereka yang memiliki kecerdasan emosi tinggi. Mereka mampu mengendalikan emosi dengan baik, hingga dalam keadaan diliputi kesedihan dan kemarahan pun tetap bisa tersenyum dengan manis. Dalam keadaan teraniaya pun tetap mampu tersenyum, memancarkan cahaya keikhlasan dari dalam dadanya.
Dahsyatnya kekuatan senyum, telah mengilhami Aidh Al Qarni, penulis muda yang produktif dari Timur Tengah, menyumbangkan buah karya istimewanya ini, untuk mengajak umat tersenyum. Tersenyumlah, karena senyum tak kalah penting dengan beragam ibadah lainnya. Banyak pakar yang berpendapat bahwa tawa dan senyuman itu merupakan penyebab paling kuat yang mendorong manusia menjadi aktif dan produktif.
Kesimpulan dan saran mereka adalah: semua orang - sesuai dengan posisinya di berbagai profesi jika ingin menikmati hidup yang tenang, nyaman, dan bahagia, hendaknya dia menjadi orang yang ceria, tersenyum dan tertawa. Dengan demikian, dia dapat menciptakan suasana yang jernih dan cair, serta dapat mengusir kejenuhan, kebosanan, dan kesusahan hidup.
Orang China sering mengungkapkan suatu hikmah, "Orang yang tidak tahu bagaimana tersenyum, maka hendaknya dia tidak usah membuka usaha dagang." Sejumlah ilmuwan menyatakan bahwa tawa itu merupakan getaran akal yang melenyapkan ketegangan-ketegangan dalam jumlah yang cukup banyak.
Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa tawa itu (yang proporsional dan pada tempatnya) adalah pelipur hati, obat bagi jiwa, dan kenyamanan bagi pikiran yang jenuh setelah bekerja dan menguras tenaga. Senyum dan tawa itu merupakan salah satu keahlian atau seni hidup, tapi banyak orang yang tidak berminat untuk mempelajarinya meskipun cukup mudah.
Cerita-Cerita Motivasi Untuk Hidup Bertaqwa
Thursday, 6 March 2008
Susunan: Mohd Najib Nur Yasmin
Kebelakangan ini minat membaca di kalangan orang dewasa, remaja dan kanak-kanak telah meningkat. Tetapi hakikat yang tidak boleh dinafikan ialah ia hanya terbatas pada bacaan-bacaan ringan dan cerita-cerita fiksional yang membawa ke arah hiburan semata.
Koleksi cerita-cerita yang kami kumpulkan dalam buku ini bukan hanya sekadar terpuji dan seterusnya dapat dijadikan sebagai pedoman ketika menghadapi masalah.
Buku ini dilengkapi dengan kisah-kisah benar yang berlaku di dalam sejarah Islam sepanjang zaman. Kisah-kisah nabi, para sahabat dan tokoh-tokoh Islam yang kami kumpulkan dalam buku ini mempunyai hikmah-hikmah yang boleh membantu individu seseorang menjadi muslim yang sejati. Sesuai untuk orang tua, para remaja dan putera-puteri muslim.
Koleksi kisah-kisah dalam buku ini dapat menjana kemantapan aqidah, keberanian, budi pekerti dan motivasi mengatasi masalah dalam kehidupan seharian.
Mutiara Kata Hikmah
Orang yang lemah selalu merasa keberatan walaupun tidak ada yang dipikulnya. Sebenarnya bukan barang yang berat, tetapi fikirannya sendiri yang memberatkannya.
Rumah Idaman Syurga Impian Suami Teladan
Monday, 25 February 2008
Penulis: Mohd. Isa Selamat
Rumahku Syurgaku adalah impian setiap insan dalam menempuh bahtera rumahtangga. Perkahwinan itu merupakan suatu pelayaran dalam menempuh samudera cinta dan kasih sayang. Allah SWT berfirman di dalam surah Ar-Ruum ayat 21 maksudnya: "Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang."
Suami teladan adalah suami yang soleh dan bertanggungjawab. Di dalam sanubarinya tersimpan sentuhan kasih sayang yang mendalam terhadap isteri dan anak-anak. Mereka selalu mengerjakan solat berjamaah, mereka sama-sama berdoa kepada Allah agar menjadikan suami yang soleh dan isteri yang solehah. Mereka juga berdoa agar memperoleh zuriat yang diredhai Allah SWT.
Setiap kali selesai menunaikan solat, mereka bersalam-salam. Isteri mencium tangan suami dan suami hendaklah mencium kening isteri agar bertambahlah rasa kasih sayang dalam rumahtangga. Begitu juga anak-anak dirusuh meminta maaf kepada kedua orang tua dan mencium tangan mereka. Supaya kebahagiaan dapat dirasakan dalam jiwa anak dan tanggungjawab dapat dirasakan oleh orang. Semoga buku yang berada di tangan anda ini akan memberi pedoman untuk membangunkan "Rumah Idaman Syurga Impian".
Koleksi Alwan Mini
Wednesday, 20 February 2008
Tips Keselamatan Untuk Menjaga Bayi
Tuesday, 19 February 2008
Assalamu'alaikum wrt wb.
Ni ada sedikit tips untuk para mempelai yang baru menikah, atau pasangan yang telah lama menikah, yang akan ada anak, atau yang dah ada anak, dan yang sewaktu dengannya.
Mungkin selama ni antum semua tak tahu cara betul dan selamat untuk menjaga bayi. Sesiapa yang dah tersilap, harap dapat taubat dengan segara. Ini sebagai peringatan buat diri ana juga. Moga dapat ambil iktibar dari tips tersebut insha Allah.
Album Tips Keselamatan Untuk Menjaga Bayi @ Multiply
Labels: buku, hehe, kempen mempercepatkan nikah, motivasi
Menjalin Hubungan Bahagia
Friday, 15 February 2008
Dato' Dr. Mohd Fadzilah Kamsah & Abdullah Hassan
Himpunan panduan dan petua yang patut diamalkan oleh suami isteri bagi menjamin hubungan bahagia.
Satu-satunya buku yang sesuai dijadikan pilihan pasangan suami isteri yang mengidamkan kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Buku ini menghimpunkan pelbagai panduan dan petua yang berguna bagi menjamin kebahagiaan dalam rumah tangga.
Antara yang terkandung dalam buku ini adalah bagaimana berkomunikasi dengan positif, bagaimana menjaga hubungan baik antara pasangan, bagaimana menyemarakkan rasa cinta antara pasangan dan banyak lagi. Ia sesuai dibaca oleh pasangan yang hendak berkahwin, baru berkahwin ataupun yang sudah lama berkahwin.
Panduan Membentuk Istana Bahagia
Tuesday, 5 February 2008
Panduan Membentuk Istana Bahagia
Hasanah Che Ismail,
PTS Millennia Sdn Bhd (PTS M)
Sinopsis
Rumah tangga ibarat bahtera.Ada masanya laut itu tenang, ada masanya bergelora. Waktu air tenang, mana-mana kapal pun bisa belayar. Cuma waktu gelora saja, barulah keutuhan kapal dan isinya diuja.
Suami adalah nakhoda dan isteri adalah pembantu. Lemah nakhoda, terancamlah pelayaran. Tanpa pembantu, tidak akan tercapai segala perancangan.
Biar pendekatan agama dan rohani kita fahami kerana pendekatan ini kerap menjadi penyelamat rukun perkahwinan terutamanya apabila pasanganjujur menghayati dan mempraktikkannya.
Asalnya manusia ini dijadikan berpasangan seperti yang digambarkan dalam surah an-Nisak ayat 1 yang bermaksud,"Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu bermula daripada satu (Adam) dan yang menjadikan daripada (Adam) pasangannya (isterinya Hawa), dan juga yang membiakkan dari keduanya-zuriat keturunan-lelaki dan perempuan yang ramai."
Kesejahteraan serta dorongan daripada pasangan yang beriman membawa kecemerlangan amalan di dunia untuk bekalan di akhirat.Institusi perkahwinan yang stabil menentukan kestabilan masyarakat.



